PT HM Sampoerna

Kota Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan yang sarat akan sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga sebagai salah satu pusat pergerakan ekonomi dan industri terbesar di Indonesia. Jika kita berbicara tentang sejarah industri di Surabaya, rasanya mustahil untuk tidak menyertakan nama PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (PT HM Sampoerna).

Bagi Sampoerna, Surabaya bukanlah sekadar kota tempat mereka mendirikan kantor cabang atau pabrik biasa. Surabaya adalah rahim tempat perusahaan ini dilahirkan, bertumbuh, dan berevolusi dari sebuah industri rumahan berskala kecil menjadi salah satu perusahaan tembakau terbesar di Indonesia, dan bahkan menjadi bagian dari raksasa global Philip Morris International (PMI).

Artikel ini akan mengupas tuntas profil PT HM Sampoerna di Surabaya, mulai dari napak tilas sejarahnya, pusat produksi modern yang dimiliki, hingga kontribusi nyata perusahaan terhadap masyarakat dan perekonomian ibu kota Jawa Timur ini.

Sejarah Awal: Lahirnya Sang Legenda dari Gang Kecil di Surabaya

Kisah sukses Sampoerna dimulai lebih dari satu abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1913. Seorang imigran asal Tiongkok bernama Liem Seeng Tee beserta istrinya, Siem Tjiang Nio, memulai usaha meracik dan melinting rokok secara manual di sebuah rumah kecil di kawasan Jembatan Merah, Surabaya.

Dengan ketekunan yang luar biasa, Liem Seeng Tee menciptakan sebuah racikan rokok kretek (campuran tembakau dan cengkeh) yang sangat diminati masyarakat sekitar. Ia kemudian meluncurkan produk mahakaryanya yang diberi nama Dji Sam Soe. Nama “Dji Sam Soe” sendiri diambil dari dialek Hokkian yang berarti 2, 3, dan 4. Jika angka-angka tersebut dijumlahkan (2+3+4), hasilnya adalah 9. Dalam budaya Tionghoa, angka 9 melambangkan kesempurnaan, keberuntungan, dan kelanggengan.

Seiring dengan pesatnya permintaan pasar, pada tahun 1932, Liem Seeng Tee membeli sebuah kompleks panti asuhan yatim piatu bergaya kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1862 di kawasan Taman Sampoerna, Surabaya Utara. Kompleks bangunan inilah yang kemudian disulap menjadi pabrik rokok pertama berskala besar milik Sampoerna. Tempat ini menjadi tonggak sejarah yang sangat penting dan masih berdiri megah hingga saat ini.

House of Sampoerna (Taman Sampoerna): Jantung Budaya dan Wisata Edukasi

Pabrik pertama di Taman Sampoerna kini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas produksi, tetapi juga telah direvitalisasi menjadi sebuah museum dan cagar budaya yang dikenal dengan nama House of Sampoerna (HoS). Terletak di kawasan Surabaya Lama (Old Surabaya), HoS kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi paling ikonik di Jawa Timur.

Melalui House of Sampoerna, perusahaan ingin menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan sejarah (heritage). Di tempat ini, pengunjung dapat melihat langsung memorabilia sejarah keluarga pendiri, peralatan melinting rokok tradisional, hingga koleksi armada distribusi zaman dahulu.

Menariknya, di balik dinding kaca lantai dua museum ini, pengunjung masih bisa menyaksikan ribuan pekerja perempuan yang dengan sangat cekatan melinting rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) legendaris, Dji Sam Soe. Kecepatan tangan para pelinting (yang disebut roller) dan pemotong (trimmer) ini sangat luar biasa, di mana seorang pekerja ahli mampu melinting ratusan hingga ribuan batang rokok per hari. Mempertahankan pabrik SKT di tengah kota Surabaya ini adalah bentuk dedikasi Sampoerna dalam melestarikan budaya kretek tangan sekaligus menyediakan ribuan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan di Surabaya.

Pabrik Rungkut: Pusat Produksi Modern Berskala Global

Jika Taman Sampoerna adalah representasi masa lalu dan tradisi, maka fasilitas Sampoerna di kawasan Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) adalah representasi masa depan, teknologi, dan inovasi.

Seiring dengan perubahan tren konsumen yang menginginkan rokok dengan kadar tar dan nikotin rendah (Low Tar Low Nicotine / LTLN), Sampoerna melakukan gebrakan inovasi dengan meluncurkan A Mild pada tahun 1989. Untuk memenuhi produksi massal produk Sigaret Kretek Mesin (SKM) ini, Sampoerna membangun fasilitas produksi ultra-modern di Rungkut, Surabaya Selatan.

Pabrik Sampoerna di Rungkut adalah salah satu pabrik rokok paling maju secara teknologi di Indonesia. Sejak berafiliasi dengan Philip Morris International pada tahun 2005, standar operasional di pabrik Rungkut terus ditingkatkan agar sejajar dengan standar global PMI. Pabrik ini menerapkan otomatisasi tingkat tinggi, kontrol kualitas (Quality Control) yang sangat ketat, serta standar Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (Environment, Health, and Safety / EHS) kelas dunia.

Kawasan pabrik di Rungkut ini juga mencakup gudang logistik raksasa yang mengatur pasokan bahan baku (tembakau dan cengkeh) serta distribusi produk jadi sebelum dikirim ke seluruh penjuru Nusantara dan pasar ekspor.

Surabaya Sebagai Urat Nadi Distribusi Melalui PT Panamas

Produksi yang masif di Surabaya harus diimbangi dengan jaringan distribusi yang kuat. Di sinilah peran PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas (PT Panamas), anak perusahaan Sampoerna yang bertugas sebagai distributor tunggal.

Surabaya, dengan infrastruktur Pelabuhan Tanjung Perak dan akses jalan tol yang terintegrasi, menjadikan kota ini sebagai hub atau pusat logistik yang sangat strategis. Dari Surabaya, PT Panamas mendistribusikan jutaan batang produk Sampoerna ke kawasan Indonesia Timur (seperti Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua), serta menyuplai kebutuhan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.

Kantor-kantor cabang distribusi Panamas tersebar di berbagai titik di Surabaya untuk memastikan ketersediaan produk (availability) di setiap warung kelontong, minimarket, hingga agen besar tidak pernah putus.

Dampak Sosial dan Ekonomi: “Sampoerna Untuk Indonesia”

Keberadaan PT HM Sampoerna di Surabaya memberikan multiplier effect (efek ganda) yang luar biasa bagi perekonomian lokal. Kontribusi perusahaan tidak hanya diukur dari besaran pajak dan cukai yang disetorkan kepada negara, tetapi juga dari program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang tergabung dalam payung Sampoerna Untuk Indonesia (SUI).

Beberapa dampak dan kontribusi utama Sampoerna di Surabaya antara lain:

  1. Penyerapan Tenaga Kerja Masif: Sampoerna adalah salah satu pemberi kerja (employer) terbesar di Jawa Timur. Mulai dari pekerja pabrik linting (SKT) di Taman Sampoerna dan Rungkut, teknisi mesin, ahli IT, staf administrasi, hingga tenaga penjualan (sales) yang terjun ke jalanan Surabaya. Khusus untuk segmen SKT, Sampoerna sangat memberdayakan perempuan, memberikan mereka kemandirian finansial untuk membantu perekonomian keluarga.
  2. Pembinaan UMKM melalui SRC (Sampoerna Retail Community): Di Surabaya, Anda akan dengan mudah menemukan toko kelontong dengan spanduk merah-putih-abu-abu bertuliskan SRC. Ini adalah program pembinaan UMKM dari Sampoerna. Perusahaan membantu para pemilik toko kelontong tradisional di Surabaya agar bisa bersaing dengan minimarket modern. Sampoerna memberikan pendampingan berupa penataan toko yang rapi, sistem kasir digital, hingga edukasi manajemen keuangan.
  3. Bantuan Bencana dan Lingkungan: Saat terjadi krisis, seperti pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu, Sampoerna di Surabaya aktif memberikan bantuan mulai dari alat pelindung diri (APD), ventilator untuk rumah sakit di Surabaya, hingga paket sembako bagi masyarakat terdampak. Perusahaan juga rutin melakukan program penghijauan dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab di sekitar area operasionalnya.

Budaya Kerja: Memadukan Kearifan Lokal dan Profesionalisme Global

Bekerja di Sampoerna Surabaya memberikan pengalaman yang unik. Perusahaan ini berhasil mengawinkan kearifan dan budaya kekeluargaan lokal dengan etos kerja perusahaan multinasional Amerika Serikat (PMI).

Prinsip dasar perusahaan dikenal dengan sebutan Falsafah Tiga Tangan (The Three Hands Philosophy). Tiga tangan tersebut mewakili:

  • Konsumen dewasa.
  • Karyawan dan Mitra Usaha.
  • Masyarakat luas.

Sampoerna meyakini bahwa perusahaan hanya bisa meraih kesuksesan jangka panjang jika mampu memberikan nilai positif dan keseimbangan bagi ketiga elemen tersebut.

Di kantor-kantor dan pabrik Sampoerna di Surabaya, lingkungan kerja dirancang agar inklusif, menghargai keberagaman (Diversity & Inclusion), dan berfokus pada pengembangan talenta (talent development). Karyawan lokal Surabaya diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelatihan kelas dunia, bahkan kesempatan untuk berkarir di kantor PMI di berbagai negara.

Kesimpulan

PT HM Sampoerna Tbk dan Kota Surabaya adalah dua entitas yang saling membesarkan dan tidak dapat dipisahkan. Dari sebuah rumah kecil di Jembatan Merah pada tahun 1913, Sampoerna telah menjelma menjadi kebanggaan industri nasional.

Hadirnya House of Sampoerna sebagai penjaga sejarah, berdirinya pabrik modern di Rungkut sebagai simbol inovasi, serta kuatnya jaringan distribusi PT Panamas yang berpusat di Surabaya, membuktikan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap kota ini. Melalui perpaduan antara pelestarian tradisi kretek dan adaptasi terhadap standar global masa depan, PT HM Sampoerna di Surabaya akan terus menjadi roda penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, dan pembawa manfaat bagi masyarakat luas di masa-masa yang akan datang.

Tinggalkan komentar